Profil: Dra. Sri Kuspartinah, Tak Ada Kata Putus Asa, Belajar, Berdoa Sepanjang Masa

July 21, 2008 · Print This Article

Bu WajiSMAdaBO-Gelar pahlawan memang tak pernah disandangnya. Karena keikhlasan lah yang menjadi alasan. ”Tak Ada Kata Putus Asa, Belajar, Berdoa Sepanjang Masa” adalah prinsip dari Guru tercatat selama 21 tahun menjadi guru Matematika inti di Kabupaten Bojonegoro.

Ditemui dikediamannya JL. Sersan Mulyono No.31, wanita yang akrab disapa “Bu Waji” ini menceritakan tentang keseharian dan pengalaman-pengalamannya. Mengabdi selama 33 tahun di SMAN 2 Bojonegoro. Tak salah lagi dialah sosok seorang pendidik yang sangat ulet dalam memperjuangkan hak-hak siswa dalam belajar dan selalu memberikan petuah-petuah pada waktu mengajar. Ibu dari lima putra ini sewaktu SMA sudah harus mengadu nasib mencari nafkah sendiri untuk memenuhi kebutuhan bapak, ibu, serta untuk biaya sekolah.
Tentunya Zigger pengen lebih detail megetahui begaimana perjalanan hidup Ibu yang dilahirkan di Kota Magetan ini. Inilah hasil wawancara Aulia Shabrina (ZZ) dengan Ibu Waji (WJ). okey kita mulai.
ZZ: Selama ini ibu sering dipanggil dengan sebutan ibu Waji, tapi siapa sebenarnya nama ibu?
WJ: Nama saya sebenarnya adalah Sri Kuspartinah, baru setelah diijinkan oleh Allah SWT untuk bisa lulus dari perguruan tinggi ditambah dengan Dra. Pada tahun 1997 menjadi Dra. Hj. Kuspartinah kemudian setelah kawin dengan Pak Waji saya dipanggil Bu Waji.
ZZ: Apa arti dari nama Ibu, mungkin orang tua ibu dulu sewaktu memberikan nama Sri Kuspartinah ada alasan dan sejarahnya.
WJ: Enggak ada, tapi orang tua saya mengharapkan kelak saya menjadi orang yang baik dan berguna. Dulu sewaktu ibu saya mau melahirkan pada malam hari, oleh ibu berusaha sekuat tenaga untuk ditahannya karena takut menimbulkan keributan sebab saat itu diberlakukan jam malam, apabila pada jam malam terjadi keributan maka akan ditindak tegas dan bisa-bisa dibunuh. Allhamdulilah, di kota Magetan pada tanggal 2 maret 1949 pada siang hari saya dilahirkan dengan selamat.
ZZ: By the way, jumlah saudara ibu berapa?
WJ: Keluarga kami adalah keluarga besar jumlah saudara saya lima orang, saya nomor lima, dan putri semuanya. Yang pertama jadi guru bahasa inggris, yang kedua ibu rumah tangga, saudara saya yang ketiga sama dengan yang pertama yaitu jadi guru bahasa inggris, yang keempat jadi asisten apotek, semuanya saat ini sudah purna tugas.
ZZ: Saudara ibu sudah…? Nah sekarang tinggal ibu sendiri, tentunya kami juga ingin tahu bagaimana riwayat ibu, mulai ibu mendapatkan pendidikan tingkat TK sampai saat ini?
WJ: Saya pertama kali mendapatkan pendidikan sekolah di TK tepatnya di Magetan, sewaktu TK saya sangat nakal, saya selalu nangis setiap ditinggal oleh nenek, saya maunya ditunggui terus-menerus oleh nenek saya sampai pulang sekolah. Saya tidak pernah main dengan banyak anak pokoknya saat itu saya sangat “kuper” sekali, saya senang menyendiri, sebab saya sangat takut bergaul dengan anak-anak, khususnya putra. Sewaktu TK saya punya kebiasaan seperti anak laki-laki, yaitu suka manjat pohon, itulah hobi aneh saya, selain memanjat pohon saya senang olahraga. Setelah saya lulus dari TK saya melanjutkan Sekolah Rakyat (SD) di Magetan tepatnya di SR Karang Anyar II. Sewaktu saya duduk dibangku SR (SD) Kami semua belum memakai sepatu seperti anak-anak saat ini, tapi masih memekai sandal jepit, sandal jepit saja bila mau main harus dilepas karena takut putus. Saya dan teman-teman menerima pelajaran agama baru setelah duduk di kelas 3, sebelum itu tidak pernah dapat pelajaran Agama, jika kepingin dapat pelajaran yang lebih harus ikut belajar ngaji di sore harinya.
ZZ: Sewaktu SR Hobby ibu apa?
WJ: Sewaktu saya masuk di SR hobby saya yang aneh sudah mulai saya tinggalkan, di SR saya mulai menyukai seni tari (buat yang suka nari bisa nyontek Bu Waji). Saya tidak tahu ya, entah kenapa saya bisa suka seni tari, Cuma kalau saya melihat orang menari saya sangat ingin sekali bisa. Itu dulu, kalau sekarang ya…. sudah nggak.
ZZ: Setalah lulus dari SR ibu melanjutkan kemana?
WJ: Setelah dari SR saya melanjutkan sekolah di SMP 1 Magetan. Setalah kelas 2 saya pindah ke SMP 3 Madiun. Mulai Di madiun saya meninggalkan seni tari, saya lebih suka atletik dan renang. Setelah saya lulus dari SMP saya melanjutkan ke SMA 1 Madiun. Pada saat inilah hobby saya tersalurkan. Saya bisa mengikuti kejuaraan/lomba lari estafet se Jawa Timur tahun 1967. dan Alhamdulillah saya bisa meraih juara 3.
Hebatkan guru matematika kita, dibalik penampilan yang Bu Waji yang saat ini, beliau dulu sorang atlet lari dan bahkan suka menari.
ZZ: Selain tergabung dalam kelompok lari estafet ibu ikut kegiatan apa?
WJ: Selain saya tergabung dalam kelompok estafet saya ikut pramuka, tapi dulu namanya pandu. Saat itu saya ikut pandu “Dirgantara” kalau sekarang mungkin “Saka Dirgantara”.
ZZ: Bagaimana dengan prestasi ibu sewaktu SMA…?
WJ: Sewaktu saya duduk di kelas 1 SMA saya pasti dapat rangking. Kalau tidak 2 ya 3 pokoknya masih masuk lima besar. Tapi sewaktu ibu duduk di kelas 2 SMA, Ibu mendapatkan cobaan dari Allah SWT, ibu saya sakit kanker dan terpaksa beliau harus dirawat di RSUP Surakarta tahun 1965. Kebetulan saat itu bapak sudah pensiun. Akibatnya, saya harus kerja keras membanting tulang untuk mencukupi kebutuhuan keluarga, membayar pengobatan ibu saya, untuk membayar uang sekolah.
ZZ: Pada waktu itu saudara ibu dimana?
WJ: Saudara ibu saat itu memang sudah bekerja tapi mereka jauh dari orang tua dan lagi mereka juga baru diangkat, jadi gaji mereka cukup untuk biaya hidup mereka sendiri. Pikiran saya saat itu yang penting saudara saya tidak menjadi beban orang tua. Selama satu tahun ibu saya dirawat di rumah sakit, bapak menunggu ibu, saya sambil sekolah harus bekerja mencari uang. Dan pada tahun 1966 Ibu Saya dipanggil oleh Allah keperistirahatan terakhirnya.
ZZ: Bu, saya ikut turut berduka cita, tapi saat itu apa yang Ibu yang dapat kerjakan?
WJ: Saat menggantikan orang tua saya berdagang. Saat itu saya jualan batik di Madiun, sehingga saya saat itu harus pulang bolak-balik dari Madiun ke Solo.
ZZ: Bagaimana perasaan ibu saat itu.
WJ: Ya gimana ya… tapi saya tidak pernah mengeluh keyakinan saya sudah bulat, semua saya serahkan pada Allah, sehingga saya menjalani dengan senang hati. Saya yakin dibalik ini semua tersimpan beribu-ribu hikmah. Disela-sela keadaan tersebut, terciptalah kebahagiaan tersendiri bagi saya sendiri, mengapa? Banyak teman Saya yang menganggap Saya sebagai bagian dari keluarga sendiri, sebaliknya temen-temen juga demikian, sehingga kalau ada catatan yang tak terselesaikan bisa pinjam. Tahun 1967 saya lulus dari SMA 1 Madiun. Setelah saya lulus saya bingung menentukan sekolah lagi untuk jadi guru atau menekuni usaha dagang saya.
ZZ: mengapa ibu bingung?
WJ: Begini, kalau saya jadi guru gajinya cuma Rp.2.750. digunakan untuk bayar kos Rp.2500 cuma tersisa Rp.250 itu saja digunakan untuk membeli keprluan sehari-hari. Jika saya gagal, saya sudah punya langganan, dan setiap bulan bisa menyisihkan uang yang bila dibelikan emas memperoleh 10 gram. Saya sempat pusing menentukan pilihan. Akhirnya saya memutuskan untuk masuk ke IKIP Malang cabang Madiun.
ZZ: Tadi, ibu bingung menentukan pilihan, mengapa kemudian ibu memilih untuk masuk ke IKIP?
WJ : Setelah saya berpikir panjang saya mendapat petunjuk dari Allah bahwa saya harus masuk ke IKIP untuk jadi guru. Apabila saya jadi guru, saya bisa sambil berdagang, tetapi apabila saya jadi pedagang saya tidak bisa sambil mengajar, sedangkan mengajar sendiri akan lebih banyak mendapatkan amal. Dengan kita memberikan ilmu yang bermanfaat amal akan mengalir terus walau kita sudah mati. Tetapi selama saya berdagang, belum tentu saya bisa mengamalkan hasil dagang seperti itu
ZZ: Ya bu? ibu sangat benar. Lantas setelah masuk IKIP Ibu mengambil fakultas apa?
WJ: Saya pertama kali masuk IKIP tepatnya tahun 1967. Saya ambil jurusan bahasa Indonesia. Entah kenapa saya ambil jurusan bahasa Indonesia, padahal jurusan saya waktu SMA A2 (IPA). Namun baru dapat satu bulan saya pindah jurusan bahasa Inggris
ZZ: Mengapa ibu pindah jurusan?
WJ: Dijurusan bahasa Indonesia tidak bisa mengikuti bahasa Arab karena saya tidak punya dasar yang kuat. Pada jurusan bahasa Inggris saya pindah lagi ke jurusan Matematika sesuai jurusan saya di SMA
ZZ:Mengapa ibu pindah lagi?
WJ:Saya pindah lagi, karena saya ketinggalan pelajaran yang sangat jauh. Saat itu masih pakai sistem gugur. Daripada kembali lagi lebih baik pindah jurusan. Kalau di Matematika, dasar saya sudah kuat, kemungkinan besar saya bisa mengejar ketinggalan materi.
ZZ: Mengapa Ibu sampai ketinggalan pelajaran?
WJ: Karena saat itu saya mencoba ikut tes Kowal. Tes Kowal dilaksanakan selama hampir satu bulan. Selama satu bulan itu, tidak bisa berhubungan dengan teman-teman di luar, sebab dimasukan dalam asrama. Akhirnya saya gagal. Setelah gagal saya melanjutkan kuliah saya sampai akhirnya saya lulus tahun 1971. Ijazah belum keluar saya sudah mengajar sebagai GTT (guru tidak tetap) di SMA 1 Tuban.
ZZ: Apa pengalaman Ibu sewaktu mengajar untuk yang pertama kalinya?
WJ: Untuk pengalaman, saya kira tidak ada, tapi saya masih ingat pertama kali saya mengajar disuruh mengajar lima mata pelajaran.
ZZ: Wah hebat benar Bu? Lima pelajaran itu apa saja Bu?
WJ: Yang pertama adalah trigonometri (dulu bab-bab pada metematika disendirikan, kalau sekarang jadi satu). Selain matematika saya juga mengajar ilmu bumi (goegrafi), alam falaq (ilmu tentang perbintangan), PKK, dan yang terakhir adalah mengajar kimia. Dalam waktu satu minggu cuma dapat kosong satu jam pelajaran. Saya empat tahun mengajar di SMA 1 Tuban. Setelah itu, saya dipindah tugaskan di SMPP yang sekarang SMAN 2 Bojonegoro pada tahun 1975. Di SMA 2 pada waktu itu, juga dapat jatah mengajar tiga mata pelajaran yaitu kimia, metematika, dan PKK. Saat itu belum ada guru kimia cuma ada Bu Sus, dan sekarang sudah purna.
ZZ: Sebenarnya cita-cita Ibu ingin jadi apa?
WJ: Saya sebenarnya punya keingginan sekolah di farmasi, makanya saya suka kimia.
ZZ: Mengapa ibu berkeingginan sekolah di farmasi? Apa latar belakang keingginan ibu itu?
WJ: Saya berkeingginan bersekolah di farmasi, sebab ibu saya pernah sakit kanker selama satu tahun. Jadi saya kepingin tahu obat apa yang bisa menyembuhkan penyakit kanker agar orang-orang tidak tertimpa kejadian seperti ibu saya. Waktu ibu saya sakit, saya sudah mencoba membaca buku yang ada kaitannya dengan kanker, membeli buku tentang penyakit kanker, sampai-sampai saya tahu segala seluk-beluk dari penyakit kanker. Itu semua saya lakukan karena saya sangat ingin sekali melihat ibu saya sembuh.
ZZ: Kami sangat salut dengan perjuangan ibu selama ini. Kami bangga memiliki ibu guru seperti Bu Waji. Paling tidak, kami bisa memetik pengalaman dari kejadian yang ibu alami.
WJ: Saat ini yang penting kalian belajar dengan sunguh-sunguh, jangan kecewakan orang tua. Kamulah yang akan menjadi harapan keluarga.
ZZ: Oh… ya, sampai lupa, Ibu menikah tahun berapa?
WJ: Saya nikah tahun 1972 dengan Pak Waji. Beliau adalah teman saya waktu kuliah dan waktu SMA.
ZZ: Wah, asyik kan, Bu?
WJ: Asyik apanya, kami sewaktu kuliah dan SMA cuma sebatas teman biasa. Kami tidak seperti anak-anak sekarang. Anak-anak sekarang kemana-mana runtang-runtung, ngalor-ngidul yang sebenarnya itu membuat kita menutup diri dari orang lain. Mengapa demikian? Seandainya ada orang lain yang melihat kamu di suatu tempat bersama orang lain, dan ternyata ada orang lain yang benar-benar suka sama kita, orang itu akan menganggap kalau kamu sudah milik orang lain, padahal antara kamu dengan orang yang menboncengkan tadi tidak ada apa-apa.
ZZ: Oh…iya…iya. Benar juga. Dari buah perwakinan Ibu dikarunia berapa anak?
WJ: Saya dikarunia 5 putra dalam kurun waktu 10 tahun. Anak saya yang pertama lahir pada tahun 1973.
ZZ: Apa kegiatan Ibu selain mengajar?
WJ: Selain mengajar di SMA 2, dulu pernah mengajar di PGRI, Muhammadiah, Katholik. Untuk kegiatan yang lain cukup banyak, diantaranya kegiatan Pengajian Ahad pagi di Masjid At-Taqwa, mengajar Iqro’ ibu-ibu kampung, dan kegiatan pengajian setiap bulan. Kegiatan saya diizinkan naik haji pada tahun 1997 dan alhamdulillah tahun kemarin saya juga bisa berangkat lagi bersama Bu Endrowati dan Pak Joko.
ZZ: Ibu termasuk dalam golongan orang yang gigih serta ulet dalam bekerja. Tentunya ibu punya prinsip dalam menjalani hidup ini?
WJ: Memang, manusia hidup harus punya pegangan. Untuk prinsip hidup saya adalah tidak ada kata putus asa, belajar, berdoa sepanjang masa. Maksudnya, dalam hidup ini jangan pernah mengenal kata putus asa. Allah itu tahu segalanya. Kita bisa berhasil dalam hidup karena belajar, baik belajar dari apapun. Setelah itu, harus kita dukung dengan ibadah yang rutin dengan berdoa tentang apa keinginan kita.
ZZ: Ini yang terakhir, apa pesan ibu terhadap siswa-siswi SMAdaBO supaya dalam menjalani hidup ini sesuai kodratnya sebagai mahluk ciptaan Allah SWT?
WJ: Belajarlah kalian dengan sungguh-sungguh dan jangan henti-hentinya kalian memohon dan berdoa. Bersahabatlah kalian sewajarnya, sebatas teman, jika kalian ingin cita-cita kamu berhasil. Anggaplah teman sekelasmu seperti keluarga sendiri, sehingga kamu betah tinggal di kelas. Yang terakhir, taatilah orang tua dan jauhilah hal yang bisa merusak masa depan kita.
ZZ: Ibu juga termasuk golongan Bapak\Ibu guru yang sudah berpengalaman dalam mengajar, dan kami dengar Ibu akan memasuki masa purna tugas. Untuk itu, apa pesan ibu terhadap teman-teman yang seprofesi dengan Ibu?
WJ: Pesan saya adalah tingkatkan keprofesionalisme kita dalam mengajar untuk menghadapi era globalisasi yang semakin cepat tanpa ada batasan ruang, waktu dan jarak.
Terima kasih Ibu Waji telah sudi berbincang-bincang dengan ZZ… Kami cuma bisa berdoa semoga Ibu dan keluarga senantiasa dalam lindungan Allah SWT .Kami salut terhadap perjuangan Ibu selama ini.Dalam keadaan yang kacau seperti saat tahun 1966 Ibu berani berjuang mengadu nasib. Kami akan selalu kenang ibu sebagai guru dalam kehidupan kami. We Miss U, Bu Waji (aul-zz)

Comments

27 Responses to “Profil: Dra. Sri Kuspartinah, Tak Ada Kata Putus Asa, Belajar, Berdoa Sepanjang Masa”

  1. Syafri_alumni 2002 on March 21st, 2011 10:23 am

    Bu Waji termasuk satu diantara guru favorit di SMUDA. Saya kenal bu Waji sejak smp kelas 3 karena saya ikut bimbingan IMO. Kalo yang lain mungkin mengenal beliau karena galaknya, justru saya kenal beliau karena ramahnya :) .
    Bravo SMUDA Bojonegoro yang telah “menjadikan” saya seperti sekarang ini
    Terimakasih buat para guru.

  2. min on March 10th, 2011 2:54 pm

    assalamualaikum
    pangkling ama bu waji….
    salam buat pak muksin, pak rum, profil pak hadi, bu umi, serta guru2 lain yang tak ingat lagi serta guru2 yang baru. kalo yang galak pak guru olah raga sopo yo ? maaf pak biasa ngumpet di asrama brimob…abis sebel ama upacara…he he he

  3. Agus Yulianto on August 15th, 2010 7:17 am

    Asslm. Bu Waji,

    Saya alumni 89, dulu kos di Rumah Pak Muhadi belakang SMA Harapan, saya termasuk orang yang beruntung, pernah ke rumah Ibu utk konsultasi tentang kesulitan Matematika. Dan setelah pulang dari rumah Ibu seakan semua soal dalam ulangan saya yakin bisa saya selesaikan dengan tuntas.
    Saya juga suka dengan omelan Ibu, memang sih sepertinya dimarahi tetapi tetap enak kok dan menyentuh hati.

    Terima kasih atas kepedulian Ibu, semoga Allah membalas dengan banyak kebaikan.
    Wasslm.

  4. Haha!@ on June 2nd, 2010 11:26 pm

    BU WAJI kangen…kangen…kangen…… hahaha

  5. Juwanto on April 11th, 2010 10:37 pm

    bu sekarang msh galak nggak?
    berkat ibu ngasih matematika, sy skrng dah jadi master di kapal
    aramco ship company UEA bu…………

    matur nuwun
    juwanto( A1/1989)

  6. titin on December 26th, 2009 3:50 pm

    assalamualaikum bu waji…
    bagaimana bu kabarnya???
    semoga sehat selalu amieN….
    bu gak kangen sama kita2 anak 10-7{THN 08}
    kita semua kangen sama nasihat2 dan materi yang ibu berikan kepada kami??? I MISS U FULL BU??

  7. Sri Indah Novianti on December 24th, 2009 11:06 am

    gimana bu kabarnya …….dah lama ni g ketemu semenjak BU WAJI pensiun

    wahhh…bu waji dulu tomboy ya ternyata, suka panjat pohon ma suka olah raga lari seperti anak cowok….aku gag nyangka lho….hehehe

    Cerita BU WAJI sangat menyentuh sekali rela berkorban demi sang ibu…. , aku bisa memahami betapa sedihnya BU WAJI saat melihat orang yang ibu sayangi terbaring lemah karena sakit…..

  8. farida handayani'98 on November 17th, 2009 2:35 pm

    Assalamu’alaikum……bu Waji tetep cantik aja, saya suka sama senyumya bu waji he…he…..masih duduk disebelah tempat duduk saya bu diruang guru?gmn kbrnya bu?hampir 7 tahun saya ndak ketemu sama bu waji.smoga tetep cantik, panjang umur, tp ndak boleh galak2x kalo ngajar ya bu……

  9. Ribut Gunawan on July 3rd, 2009 8:01 pm

    Nama saya Ribut Gunawan, alumni 1988 jujur saja dahulu saya termasuk murid agak bengal (pernah ditempeleng Pak guru olah raga) dan tidak termasuk murid yang pinter ( Bodho tapi PD). mungkin ada teman seperjuangan yang kontak ke saya bibawah alamat email saya :[email protected]

  10. Bu Waji on June 25th, 2009 10:40 am

    Assalamualaikum anak-anak

    He he he…
    masih anak-anak saja loo meskipun sudah usianya tua dan sudah berank pinak mungkin… hehehe

    Terimakasih atas comentar dan supportnya. Semoga selalu sehat dan mendapat kemudahan dalam berprestasi. Belajar terus ya….!!!

    Kami guru-gurumu akan tetap jadi guru dan selalu mendoakan kalian semua supaya selalu dalam lindungan-Nya dan diberi kesempatan untuk berprestasi yang lebih baik. Amin

    Salam
    Sayang untuk semuanya….

  11. Dear, Bu Waji, nama sy heru adi wibowo, murid ibu angkatan 97-2000 spt hendrayana tuh, tp sy 3 ipa 4, sy yg paling ganteng di kelas itu, itu katanya Bu Waji, h3x, mudah ingetnya, Sy Chinese, trus, duduknya di depan sendiri sama romi yg dipanggil rombong, skr sy jadi guru juga loh bu, sy kuliah komputer and inggris, jd skr ngajar komputer dengan bhs inggris di international school di surabaya, Success for Smuda y, salam buat Bpk. Ibu Guru semua, terima kasih bimbingannya

  • one on March 14th, 2009 10:25 pm

    iki lo e-mail ku. [email protected]. kowe nok semarang endi, aku duwe sedulur nok kulone rumah sakit ROEMANI.

  • drg. Ratna Prima Dewi on March 13th, 2009 5:10 pm

    halo on, piye kabarmu, alamat email ngendi?

  • Mochamad One on March 10th, 2009 11:33 pm

    Hallo bu dokter Prima, masih Ingat saya. Teman sepermainan dikala SMA. Dulu anda pernah tinggal di Mojokampung, rumah saya depan rumah anda, masuk ke gang Darma Bakti

  • drg. Ratna Prima Dewi on March 5th, 2009 6:45 pm

    ibu, saya lulusan tahun 1987, dulu temen2 takut sama ibu, disamping pelajaran matematika menjadi momok juga karena ibu terkenal agak keras, tapi justru karena itu saya jadi menyukai pelajaran matematika dan akhirnya pelajaran matematika saya lumayan bagus, terima kasih ibu waji, semoga ibu tetap menjadi pendidik yang berguna bagi nusa dan bangsa

  • cno_marzoese on January 22
    Sanosuke Sagara (SS) on November 27th, 2008 9:56 am

    Bu Waji memang tokoh yang luar biasa. Saya kenal beliau bahkan sebelum masuk SMADA.Bukan karena tetangga, tapi waktu kelas 3 SMP, saya harus ke SMADA untuk mendapatkan bimbingan dari beliau.Terima kasih kepada Bu Waji atas bimbingannya selama ini. Semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan pada hidup Bu Waji.Tapi, terus terang saya kaget juga kalo beliau ternyata pernah jadi atlet.Dan kalau baca pilihan beliau untuk jd guru, saya jadi teringat ustazd Rahmat Abdullah (yg sekarang kisah hidupnya difilmkan dalam film “Sang MUrobbi”) yang memilih jadi guru daripada jadi pegawai.Salut buat Bu Waji.
    Salam buat semua warga SMADA
    Wassalamu’alaikum

  • siswono_alumni th1982 on November 26th, 2008 2:44 am

    Ass. .. Bu Waji, tidak terasa 26 thn yang lalu saya masih dibimbing dan diajar oleh Ibu, hanya kata terima kasih yang bisa saya sampaikan, semoga semua amal jerih payah ibu mendapat pahal dari Allah swt. ..amien 3x

  • Hendrayana, SPt. Akt 1997 lulus 2000 on November 24
    Assalaamualaikum WR WB

    Smg Ibu selalu sehat dan dalam lindungan ALLAH SWT.
    Pasti bu waji masih jago matematika, walaupun agak galak tapi jos disiplinya. Ada kisah saat saya duduk dikelas IPA 3 (waktu itu yg keterima PMDK IPB dua Orang, saya dan Zendy dari IPA 3 juga). Kisah itu masih selalu saya ingat, karena bu waji bukan sekedar guru matematika tapi juga guru matematika agama yang memberikan pelajaran yang berharga. Pagi itu teman saya “fulan” terlambat masuk sekolah dengan alasan yang klise (kata yang sering disebut Bu Endro untuk suatu alasan,he2), dengan tergesa –gesa dia masuk kelas setelah terkena hukuman nyabutin rumput (hukuman untuk siswa yang terlambat waktu itu selain membuat paper) tentu saja dimandorin pak Alim (Gmn Kabarnya, ada yg tau?) yang senantiasa dengan sabar menunggu siswa yg telat sambil membawa penggaris (tahu kan guna penggaris itu,hi…..serem).Setelah nyabutin rumputnya selesai, “fulan” dengan napas ngos –ngosan masuk kelas jam pertama yang diajar bu waji.
    ” Gus kenapa telat!” Tanya bu waji.
    “Ketiduran Bu” jawab fulan.
    Bu waji nanya lagi, “Sudah sholat subuh belum?”
    “Belum bu” fulan menimpali.
    “Sholat subuh dulu, sana!!!!. Tegas bu waji
    Akhirnya “ fulan” sholat subuh dulu sebelum belajar matematika
    Ternyata hal itu yangbanyak tentang hukum sholat, dimana terdapat hitungan2 seperti matematika. Jika kita belum sholat maka ada hitungan hutang kita kepada ALLAH yang harus segera kita lunasi sewaktu kita ingat.
    JazAkallah bu, itu pelajaran berharga bagi kita selain matematika

    Salam buat Ibu Ninik (My Inspiration)
    Kapan di tampilin diprofil
    Matursuwun

    Wassalaamualaikum wr wb

  • Hendrayana, SPt. Akt 1997 lulus 2000 on November 24th, 2008 5:06 pm

    Assalaamualaikum WR WB

    Salam buat Ibu Ninik (My Inspiration)
    Kapan di tampilin diprofil
    Matursuwun

    Wassalaamualaikum wr wb

  • Hendrayana, SPt on November 24th, 2008 5:03 pm

    Assalaamualaikum WR WB

    Smg Ibu selalu sehat dan dalam lindungan ALLAH SWT.
    Pasti bu waji masih jago matematika, walaupun agak galak tapi jos disiplinya. Ada kisah saat saya duduk dikelas IPA 3 (waktu itu yg keterima PMDK IPB dua Orang, saya dan Zendy dari IPA 3 juga). Kisah itu masih selalu saya ingat, karena bu waji bukan sekedar guru matematika tapi juga guru matematika agama yang memberikan pelajaran yang berharga. Pagi itu teman saya “fulan” terlambat masuk sekolah dengan alasan yang klise (kata yang sering disebut Bu Endro untuk suatu alasan,he2), dengan tergesa –gesa dia masuk kelas setelah terkena hukuman nyabutin rumput (hukuman untuk siswa yang terlambat waktu itu selain membuat paper) tentu saja dimandorin pak Alim (Gmn Kabarnya, ada yg tau?) yang senantiasa dengan sabar menunggu siswa yg telat sambil membawa penggaris (tahu kan guna penggaris itu,hi…..serem).Setelah nyabutin rumputnya selesai, “fulan” dengan napas ngos –ngosan masuk kelas jam pertama yang diajar bu waji.
    ” Gus kenapa telat!” Tanya bu waji.
    “Ketiduran Bu” jawab fulan.
    Bu waji nanya lagi, “Sudah sholat subuh belum?”
    “Belum bu” fulan menimpali.
    “Sholat subuh dulu, sana!!!!. Tegas bu waji
    Akhirnya “ fulan” sholat subuh dulu sebelum belajar matematika
    Ternyata hal itu yang membuat saya mengkaji lebih banyak tentang hukum sholat, dimana terdapat hitungan2 seperti matematika. Jika kita belum sholat maka ada hitungan hutang kita kepada ALLAH yang harus segera kita lunasi sewaktu kita ingat.
    JazAkallah bu, itu pelajaran berharga bagi kita selain matematika.

    Wassalaamualaikum wr wb

  • yuli mulyaningtias_ALUMNI th 2005 on September 27th, 2008 5:48 am

    Ass…. Bu Waji, terima kasih atas ilmunya yang telah panjenengan transfer kepada kami. semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. saya pribadi berdoa untuk kebaikan panjenengan sekeluarga. Matur sembah nuwun….

  • xii-ia3 on August 16th, 2008 2:58 pm

    bu,critanya tadi (16/8/08) bagus banget. Bisa diambil hikmah n pelajarannya,bahwa tak ada yang abadi di dunia ini. Keabadian tu peluangnya nol. Makasih ya bu…..mgkin saya akan menerapkan apa yg ibu sarankan. Kapan2 crtain lagi ya bu, pengalaman yang lainnya… We love you 4-ever.

  • Got something to say?