Memilih Kuliah, Ortu dan Anak Tak Boleh Egois
Posted by By editor at 10 January, at 23 : 05 PM Print
Tulisan ini pernah
dimuat di Radar Bojonegoro 8 Mei 2011, Namun masih renyah untuk dibaca saat ini. Oleh: Prawoto- Pegiat
Sindikat Baca
Bagi siswa kelas XII (kelas 3) tingkat menengah (SMA/SMK/MA) saat ini menjadi minggu-minggu awal bebas dari
pelajaran dan UAN. Tentu perasaan senang, lega dan seterunya menyeruak dalam diri. Paling tidak itu yang
dirasakan untuk sementara waktu sambil menunggu pengumuman kelulusan yang rencananya akan diumumkan resmi
pada 16 Mei 2011. Tapi hidup tak berhenti di situ bukan? Justru semua baru akan dimulai. Siswa kelas XII
yang dalam masa transisi akan menjalani rutinitas berbeda, tidak berangkat sekolah lagi, tidak bertemu
teman/guru di ruang kelas, tidak lagi bisa menyapa dan disapa. Yang paling berbeda adalah tidak akan ada
lagi kegiatan belajar mengajar, kewajiban mengikuti pelajaran. Memang, semua sudah selesai. Lantas apakah semua memang benar-benar selesai? Tentu tidak.
Salah satu media nasional dalam hasil jajak pendapatnya menunjukkan bahwa mayoritas responden (85%) berniat
melanjutkan studi di perguruan tinggi. Namun sebagian lulusan sekolah menengah kejuruan memilih untuk tidak
melanjutkan kuliah. Alasannya adalah ketiadaan biaya dan biaya kuliah yang semakin meroket. Untuk itu perlu
pemikiran yang matang untuk memilih studi lanjut. Berdasarkan data statistik Perguruan Tinggi (Kemendiknas)
lima besar jurusan yang paling diminati pada tahun ajaran 2009/2010 adalah ekonomi menududukiperingkat
pertama, disusul oleh teknik/teknologi, kemudian perikanan, peternakan, pertanian. Urutan keempat adalah
kodokteran/kesehatan. Dan yang kelima adalah hukum.
Benar apa yang disampaikan Kompas Esktra (edukasi) bahwa “Selepas sekolah menengah atas, siswa akan menapaki tahap terpenting dalam upaya menyiapkan diri untuk menjadi manusia mandiri. Tahap itu adalah sekolah di perguruan tinggi, seiring dengan begitu beragamnya perguruan tinggi yang bisa dipilih, begitu beragam pula jalan yang bisa ditempuh untuk memasukinya, juga begitu banyak pertimbangan yang harus dipikirkan.” Ungkapan ‘malu bertanya sesat di jalan’ akan sangat berlaku pada kondisi ini. Maka, jangan malu bertanya. Bertanya apa saja pada mereka, semua orang yang pernah mengalami masa-masa ini, hingga mereka bisa sampai pada langkah kehidupan seperti saat ini. Mereka adalah guru-guru, orang tua, orang-orang tidak sukses maupun tidak sukses di bidangnya, kakak-kelas atau alumni di setiap sekolah. Mereka adalah para pendahulu yang pernah mengalami kehidupan, punya pengalaman dalam memilih tingkat pendidikan lebih tinggi. Bertanya dan belajar pada sejarah dari sejarah kehidupan sesorang akan sangat baik dan bermanfaat.
Orang tua tak lagi harus bersikap otoriter terhadap pilihan anak-anaknya. Anak juga tak boleh semaunya
menentukan pilihan. Ada jalan tengah yang indah untuk bisa diselaraskan antara orang tua dan anak. Di sisi
lain, guru-guru di sekolah juga memiliki banyak informasi yang bisa digali untuk menjadi pertimbangan.
Ingat, tak cukup hanya bertanya pada guru BK. Guru mata pelajaran lain juga memiliki banyak info berharga.
Mungkin, guru BK akan menjadi tempat labuhan siswa untuk yang terakhir guna konsultasi, selanjutnya
membimbing secara teknis menjalani langkah dan tahapan daftar pada perguruan tinggi negeri atau
swasta.
Bertanya pada orang lain, termasuk kakak kelas, saudara atau siapa saja yang menggeluti bidang yang menarik
akan sangat melebarkan pengetahuan. Bertanya pada ahlinya, pada yang sudah berprofesi akan samakin membuat
kaya pengetahuan yang lingkupnya pada tahap dan tataran pengalaman.
Pun perlu kita bertanya pada orang-orang yang gagal menjalani studi di tingkat lanjut, sebab dalam kegagalan
seseorang memiliki manfaat sangat berharga. Supaya kegagalan tersebut tidak terjadi pada diri kita, si
penanya. Tentu bertanya pada yang sukses juga sangat saya sarankan.
Kalimat bijak mengatakan, semua akan indah pada waktunya. Tentu untuk indah pada waktunya butuh proses dan
persipan yang panjang pula. Dalam hal pilihan studi lanjut, mulai saat sekarang anak dan orang tua mulai
menggali info dari berbagai sumber. Berdiskusi dengan cara yang indah antar orang tua dan anak kesayangan
menjadi pilihan yang sangat disarankan. Sekali lagi, begitu banyak pertimbangan yang harus dipikirkan dalam
memilih studi lanjut, mulai dari sekarang agar kelak anak-anak “tak sekadar mejalani” studi di perguruan
tinggi.
Maka dalam proses tersebut akan mengarah pada perguruan tinggi mana yang cocok, yang sesuai minat/keinginan,
dan dana. Muncullah perguruan tinggi yang menjadi idaman. Pertimbangan untuk memilih pergurun tinggi ada
pada fasilitas pendidikan dan sarana pendukung yang baik dalam proses belajar. Kurikulum dan mata kuliah
juga menjadi pertimbangan. Lainnya adalah lokasi perguruan tinggi, jauh atau dekat. Letak strategis dengan
akses jalan, tranportasi atau fasilitas umum lainnya. Citra dan nama besar universitas perlu juga
dipikirkan. Yang terakhir adalah biaya. Biaya menjadi salah satu pokok untuk menentukan pilihan. Selain yang
saya sebutkan tadi, tidak munafik orang akan juga memperhatikan prospek dan lapangan kerja ke depannya.
Bagi anak:
Pertimbangkan pilihan studi yang akan diambil. Tentang jurusan, dan diperguruan tinggi mana. Jangan hanya
menetapkan satu pilihan. Buat beberapa pilihan alternatif jika yang utama tidak bisa dicapai, ada alternatif
lain. Bertanya pada banyak orang menjadi hal wajib, terutama pada mereka yang memiliki bidang kesamaan
dengan pilihan. Prospek ke depan dan bagaimananya. Hal itu akan menjadi hal sangat penting. Asal pilih tidak
menjadi saran. Kemampuan orang tua dalam hal biaya juga menjadi pemikiran.
Dalam memilih, libatkan hobi, kesukaan, hal yang disenangi, kepandain, kecenderungan dalam bidang pelajaran
apa yang paling dikuasai. Hal-hal tersebut perlu dipertimbangkan dan digali dengan serius untuk bisa
menemukan jurusan apa yang nantinya kira-kira sesuai dengan pilihan hati, tentu harus mengukur kemampuan.
Asal pilih, ‘anut grubyuk’ teman tak akan memberikan hasil optimal. Untuk itu bisa minta bantuan guru-guru
sehingga bisa memberikan masukan, tapi tatap saja hasil akhir yang menentukan adalah kalian.
Libatkan orang tua dalam memilih, sebab mereka yang akan menjadi penopang biaya selam kuliah. Tentu orang
tua juga harus tau, dan perlu diskusi panjang. Mau menangnya sendiri akan berakibat tak baik dalam hubungan.
Bagaimanapun orangtua ingin anaknya hal yang terbaik. Anak juga harus bertanggung jawab atas pilihannya.
Kuncinya total dalam mejalani studi, sehingga hasil maksimal dan membawa manfaat untukkehidupan yang akan
datang.
Bagi orang tua:
Orang tua perlu berdiskusi dengan keluarga teman untuk membuka cakrawala, tentang potensi anak, kemampuan
anak dan prospek kerja di masa yang akan datang. Dengan mengasuh anak sejak kecil, pasti orang tua bisa
mengarahkan anak ke mana nanti akan memilih. Kecenderungan anak, tabiat anak, rajin, malasnya anak dalam
bidang tertentu bisa menjadi unsur dalam menentukan pilihan. Sekali lagi jalan tengah yang indah akan bisa
didapatkan dan akan menghasilkan pilihan yang sangat pas.
Orang tua harus membuka diri pada hal-hal baru dan meng-upgrade wawasaan, peluang kerja dan hal-hal lain
yang sudah tidak sama dengan jamannya waktu dulu.
Kebanyakan orang tua dalam mengarahkan pilihan studi anak berpedoman pada hal praktis yaitu gampang dalam
bekerja dan mudah cari uang. Maka jika ada yang ngotot dan keinginannya ‘pengen’ dituruti anak dalam hal
memilih studi, orang tua tidak sepenuhnya salah. Hanya saja perlu melihat dan bercermin pada kemampuan anak.
Melihat nilai minat serta ketertarikan anak. Berilah tanggung jawab pada pilihan sang anak. Sehingga
anak-anak akan sangat bersungguh-sungguh atas pilihannya sendiri.
Sekali lagi, dalam menentukan pilihan, anak dan orang tua tak boleh main-main dan asal-asalan. Supaya tidak
semakin banyak sarjana yang nganggur tanpa karya. Masih ada beberapa minggu untuk menyiapkan diri dalam
memilih sebelum ujian masuk perguruan tinggi digelar pada 31 Mei-1 Juni mendatang.
Untuk mengambil keputusan TIDAK boleh sama-sama egois, harus dengan banyak pertimbangan. Seperti yang kita
tahu, masa kuliah berbeda dari masa sekolah. Pada waktu itu, ada masa transisi dari SMA ke anak kuliahan dan
pasti akan bertemu dengan berbagai macam orang, dalam masyarakat. Pilihan kalian berpengaruh pada masa
depan.
Setelah mendapatkan pilihan yang apa yang yang dituju, kalian siswa kelas XII, perjuangkan itu mulai dari
sekarang. Jangan batasi diri kalian dalam mencoba hal baru (kecuali untuk hal negatif). People won’t be able
to develop themself if they limit themselves. Terus jadilah yang terdepan. Tak lagi ada “rapatkan barisan
satukan jawaban” akan tetapi dituntut untuk lebih mandiri dan berlomba serta berkompetisi dengan teman-teman
seperjuangan lainnya.
Maka, benar apa yang ditulis oleh Susanna Tamaro, dalam buku ‘Pergilah Kemana Hati Membawamu’, “Dan kelak,
di saat begitu banyak jalan terbentang di hadapanmu dan kau tak tahu jalan mana yang harus kau ambil,
janganlah memilih dengan asal saja, tetapi duduklah dan tunggulah sesaat. Tariklah napas dalam-dalam, dengan
penuh kepercayaan, seperti saat kau bernapas di hari pertamamu di dunia ini. Jangan biarkan apa pun
mengalihkan perhatianmu, tunggulah dan tunggulah lebih lama lagi. Berdiam dirilah, tetap hening, dan
dengarkan hatimu. Lalu, ketika hati itu bicara, beranjaklah, dan pergilah ke mana hati membawamu.”
Biodata: Penulis adalah Guru Pengajar di SMAN 2 Bojonegoro dan SMPN 2 Gondang, Sindikat Baca, Blogger Bojonegoro, Sosial Networking Literasi,
mahasiswa ekonomi islam, 2 months ago
Dan yang tak kalah penting adalah meminta petunjuk pada ALLAH SWT, ALLAH Maha tahu. Terkadang apa yang baik menurut kita belum tentu demikian juga disisi ALLAH SWT…!! maju terus smadabo